Friday, January 19, 2007

sawah hijau

ini adalah foto sawah dan dua orang yang akrab dengan sawah. sawahnya hijau menguning, sesuatu yang jarang ditemukan di negara-negara selain indonesia tercinta.

di tanah kelahiran saya ini sawah menjadi identik dengan kehidupan desa yang masih tradisionil. sering saya lihat di televisi film-film atau sinetron-sinetro yang menampilkan image ke-desa-an dengan menampakkan sawah. melihat itu saja sebetulnya kita bisa menyimpulkan bahwa indonesia sudah cukup makmur bahkan di area masyarakat tradisionil, dimana mereka justru terbiasa dengan limpahan makanan pokok. tidak seperti di luar-luar negeri yang kebanyakan bergerak di bidang industri, mereka hanya mempunyai ladang coklat (seperti rambut jagung) yang sepet dipandang mata. tanpa ada sesuatu yang terlihat hijau rakyat-rakyat kelas pekerja desa hidup. rasanya seperti melihat film biografi penyanyi terkenal John Case, dimana mata saya sangat sepet begitu melihat lingkungan tempat tinggal masa kecilnya. tahukah anada bahwa warna hijau dapat menimbulkan efek positif bagi mata? nah disitulah letak kelemahan negara beriklim non tropis yang punya warna hijau hanya pada hutan konifernya.

lagi, negara kita pun setiap tahunnya selalu dikunjungi oleh hujan yang jumlahnya tak sedikit. bahkan kadang berlebihan. melihat banyak negara lain yang begitu sulitnya mencari air, yang begitu lamanya menanti hujan, kita sungguh beruntung.

tanpa merasa terlalu dingin (karena salju) dan terlalu panas (seperti gurun) lah tempat yang kita diami sekarang. dengan iklim yang sedang-sedang saja sehingga iklim tersebut (hampir) tidak mematikan (secara langsung). sekali lagi alangkah beruntungnya kita.

bersyukur itu mulai dari yang kecil, contohnya iklim tadi, dengan mengesampingkan masalah yang besar-besar setidaknya kita masih punya yang kecil yang kita harusnya kita syukuri dulu. "maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" (ada dalam Q.S. Ar-Rahmaan)


maka nikmat Tuhan kamu yang kecil ini mau kamu dustakan kah?, kalau yang kecil didustakan, bagaimana yang besar??

Thursday, December 14, 2006

teladan......mine

dari jendela kelas sepuluh dua.................................................................................................................

lorong gedung utama sekolah lantai tiga ................................................................................................

kubah masjid al uswah tempat kami sholat...........................................................................................

pemandangan dari sepuluuh dua lagi ...................................................................................................


***


ini pemandangan-pemandangan yang terpotret dari sekolah ku...........^^

(ini hasil jepretanku lho pakai hape temen, ah dasar nggak modal!)

saya adalah saya

beberapa hari yang lalu, saat saya tak mempunyai ghiroh untuk belajar matematika (padahal ujian waaaaa...!) seperti biasa saya mulai berpikir jauh tentang sesuatu yang tidak masuk akal.
seperti (pikiran saya kemarin) kenapa saya seperti ini? perasaan dulu, duluuuu sekali dan dulu (tidak pakai sekali) saya tidak seperti ini.

dulu, waktu Tk saya hanyalah seorang bocah kecil penakut yang cengeng (sepertinya) dan tidak bisa tersenyum ( sampai sekarang saya tidak habis pikir untuk yang satu ini). ibu saya bercerita bahwa saya hanya bisa tersenyum satu kali, saat pentas menari di TK (saya menjadi satu-satunya semut yang tersenyum). entah kenapa saya tidak tersenyum saat itu, alasan yang sudah saya lupa, terlupa, atau bahkan sengaja dilupakan. yah semua yang tidak jelas terjadi di taman kanak-kanak, saya tidak punya teman, dimarahi tiap pagi karena telat (walau cuma lima menit!), dan merasa dideskriminasi.
diskriminasi! diskriminasi? anak Tk sudah tahu diskriminasi!
ya mau bagaimana lagi, keadaan yang membuatku tahu dan benci dengan diskriminasi.....saat itu. waktu itu saya sedang sebel-sebelnya dengan guru-guru saya di taman kanak-kanak yang galak-galak, padahal saya masih TK! pikir saya, seharusnya anak TK di-emong.
saya jalan-jalan di taman bermain milik Tk saya, sendiri sambil melihat-lihat ulat di pohon (ini benar-benar masih saya ingat sampai sekarang) dan anak itu pun datang. anak itu adalah anka berumur sekitar 2-3 tahun yang BUKAN murid Tk saya tapi memakai seragam Tk saya. ah, masa bodoh dia siapa! yang saya acuhkan adalah.......guru saya yang biasanya memarahi saya malah menjadi amaaat baik pada dia! anak itu! bukan amat baik, terlalu baik malah, sampai seperti.....di******a*. saya langsung merasa cemburu dan tidak adil, saya berpikir saya yang datang tiap hari ke Tk ini! kenapa saya yang dimarah-marahi dan dia yang dikata-katai lembut seperti itu? wah, saya tidak suka begini bu....
saya melanjutkan waktu istirahat saya dengan berjalan-jalan sendiri (lagi-lagi sendiri) dan terhenti pada ulat pohon lagi, sambil memendam amarah saya melihat-lihat ulat pohon lagi.
diskriminasi.....
diskriminasi menurut anak Tk, beberapa tahun kemudian saya pun melupakan kejadian itu, perlahan-lahan terlupakan, dan hilang, tapi tahun-tahun belakangan ini tiba-tiba saya teringat lagi saat itu, saat saya menemukan arti kata diskriminasi untuk pertama kalinya. diskriminasi anak Tk. kadang saya ingin tertawa kalau mengingatnya, begitu kekanakannya saya....dan kadang saya ingin menangis bila mengingatnya, karena.........setelah beberapa tahun saya masih merasakan rasa cemburu itu, entah pada keluargaku sendiri atau pada sekolah atau pada komputer, entahlah....
padahal saya tahu. itu adalah suatu perasaan yang bodoh.
bukankah semua rezeki, jodoh, dan kematian kita sudah terjaga di tangan Nya? kalau memang kita berhak atasnya (nya: harta, benda, kasih sayang, teman, perhatian, dll) kita pasti merasakannya, PASTI!!
nah disinilah saya merasa, betapa saya masih begitu dangkal untuk hidup dan melangkahkan kaki di bumi ini.....padahal ini hanya bumi yang fana.

itu adalah saya, waktu Tk.
kemudian...Sd, sekolah dasar adalah saat saya merasa materi adalah tiada duanya. materi-materi dan materi, dalam hal ini ...nilai. nilai dari siapa saja, rasanya saya jadi gila nilai. saya merasa butuh dinilai baik oleh orang lain. saya berusaha apa saja untuk mendapat nilai yang terbaik dan saya (waktu Sd) menjadi anak yang memilih diam belajar di rumah daripada jalan-jalan ke luar bersama teman (mungkin karena saya tak punya teman dekat). lagipula selalu tak ada yang mengajak pergi kemanapun. jadi diam dan menurut di rumah menjadi satu-satunya pilihan saya yang lama kelamaan menjadi rutinitas saya. itu semua telah menjadi kebiasaan. saya waktu Sd adalah anak yang....membutuhkan nilai dan secara tidak sadar berusaha keras untuk mendapatkan penilaian terbaik dari orang lain. dengan begitu, wajar saja bila saya berpikir terlalu sederhana untuk hidup ini, mungkin juga lantaran saya masih kecil.
saya menjadi sedikit 'batu' yang lumayan keras.

.................................................................................................................................................. continued

Saturday, December 9, 2006

Kata Pak Presiden... ( 1 )

kata pak presiden kita kepada para TNI (kalau tidak salah jumlahnya sekitar 4 ribu orang) di Gunung Jambe seusai latihan besar, "jadilah TNI yang ditakuti lawan, disegani kawan, dan dicintai rakyat."

suatu kali saya pernah mengikuti seminar tentang wawasan kebangsaan dan bela negara yang diadakan untuk anak-anak SMA di kota yogya. tempatnya di balai kota yogyakarta.
waktu SMP saya sama sekali tidak pernah ikut seminar ataupun acara-acara semacam itu sama sekali, keluar rumah saja paling untuk les (ah dasar anak SMP) jadi saya sangat menunggu kesempatan untuk menyambut event yang menurut-saya-waktu-itu sangat besar dan penting serta akan sangat berkesan karena saya yakin tokoh-tokoh yang ada di sana pastilah yang otaknya sangat kinclong dan pengalamannya luar biasa.
untuk kedua kalinya saya menjejakkan kaki di gedung utama balaikota yogyakarta (yang pertama beberapa bulan lalu saat saya akan berangkat ke denpasar) saya memasuki ruang pertemuan atas yang di desain untuk pertemuan-dialog (kursinya ditata hingga berbentuk segi empat). lantainya dibalut karpet hijau.dan di langit-langitnya tergantung wadah lampu yang besar sekali berisi lampu-lampu kecil berpijar oranye.
wah pikiranku tentang suatu forum yang menakjubkan segera memenuhi kepalaku. rasanya sudah tidak sabar menunggu forum tersebut dibuka.

beberapa detik kemudian dibukalah forum tersebut oleh seorang dan-dim (komandan kodim) yang saya upa namanya. bapak dan-dim tersebut kemudian memperkenalkan dirinya, pertama-tama nama beliau, kemudian jabatan, pengalaman (jam terbang), pernah ditugaskan dimana saja, dll. ini adalah hal pertama yang membuat saya lumayan il-feel (ilang feeling) terhadap acara tersebut, karena saya sendiri menjunjung tinggi pahlawan yang tidak ingin dikenal namanya apalagi jabatan serta jam terbangnya, wah we're not in the same way Pak dan-dim. mungkin perkenalan nama dan tetek bengeknya itu termasuk dalam pemberian-penghargaan kepada bapak sebagai dan-dim tapi...perlukah ?? saya sendiri tidak menghendaki perkenalan yang terlalu endalam, cukup mengetahui bahwa bapak adalah seorang dan-dim itu sudah cukup, saya rasa dari situ saya sudah bisa tahu bahwa bapak punya banyak pengalaman.

hal kedua yang makin membuat saya il-feel adalah dengan diterangkannya materi wawasan kebangsaan tersebut atau disingkat was-bang dengan menggunakan power point dan tanpa bapak dan-dim banyak bicara. padahal seperti kita tahu, power point tersebut hanya ditujukan untuk memperjelas dari penjelasan yang dijelaskan, dan itu tidak berarti bahwa dengan hanya dibacakannya tulisan-tulisan di layar power point itu akan cukup memberikan kami, pendengar, penjelasan yang oke.

hal ketiga yang membuat saya il-feel adalah ditayangkannya contoh video yang merusak bangsa (bapak tersebut mengatakan bahwa video clip atau hal-hal semacam itu sangatlah merusak generasi muda, tapi tetap saja diputar di tengah-tengah forum yang berjudul 'wawasan kebangsaan' ). rasanya saat itu saya ingin berkata pada bapak. "pak, kami (anak muda) ini masih terlalu bodoh untuk disodori hal-hal yang malah membuat kami tak bisa mngendalikan kebodohan kami, mengertilah pak, tidak ada anak muda yang enangkap hal buruk dari video clip Britney Spears."

dan yang membuat saya makin merasa kecewa adalah saat pertanyaan saya tidak dijawab oleh dua narasumber di ruangan tersebut (total ada 3 narasumber), hanya ada satu orang saja yang bisa menangkap inti dari kalimat bertanda tanya yang saya gunakan.
saya jadi merasa pintar.

ternyata bapak-bapak itu tidak sejenius yang saya kira di dalam forum, yah saya kan tidak tahu bagaimana keadaan di lapangannya, saya harap bapak-bapak itu bisa menimbulkan 'cinta ' dari rakyatnya...

seperti kata pak presiden.....

nb: walaupun saya merasa tidak puas sudah mengikuti forum tersebut, saya tetap senang karena di situ saya sempat melihat satu hal yang bagus. hal itu...saat bapak-bapak pelaksana menyetelkan video latihan TNI kepada kami.....wah saya senang sekali, tapi sekali lagi...rasanya itu pilihan yang kurang bijak karena kami, pelajar, masih terlalu bodoh untuk memahami betapa berat dan pentingnya bela negara itu, untuk membuktikannya pada kami rasanya kurang cukup bila hanya memakai video rekaman

munafik??

" kemunafikan itu menohokku dalam, aku tersembunyi dalam luhur dan saat aku ingin meninggalkan gelap,

aku menangis karena terperosok.

terperosok dua kali oleh hal yang tak jadi yakinku.....

kiranya aku sudah cukup tertohok, semoga cukuplah apa-apa yang ada di dunia fana ini...."




kata-kata ini aku kutip dari catatan-perjalanan-hidup-sara.
1 Desember 2006 lalu

Thursday, December 7, 2006

saya adalah anak perantauan

assalamualaikum warahmatullah wabarokatuh

yah,akhirnya saya menulis satu post di blogku sayang ini, blog yang sudah saya delete dan saya bangunkan lagi untuk memberikan konsekuensinya sebagai blog yang bertanggung jawab.


ini pramistha xisara,biasa dipanggil sara. saya adalah seorang anak pertama dari tiga bersaudara yang dilahirkan di Cilacap, duapuluhlima maret sembilansatu. saya merantau dari kampung halaman ke Yogyakarta hadiningrat untuk menempuh salah satu jenjang pendidikan yang bernama Sekolah Menengah Atas, tepatnya di SMA N 1 Yogyakarta. sekarang saya sudah kelas dua setelah sebelumnya duduk di kelas satu .


ini adalah blog pertama saya yang saya isi atau saya beri posting, tidak seperti ber-blog-blog sebelumnya yang saya tinggalkan karena saya lupa usernamenya sehingga tidak bisa saya buka. nah untuk blog saya yang satu ini username,password,dan segala tetek-bengeknya sudah saya catat di satu file khusus yang saya simpan di flashdisk, yah tenanglah saya.


sebelumnya saya tidak tahu apa yang namanya blog itu, nama-nama blog sebelumnya pun cuma saya buat untuk iseng dan saya tidak ambil pusing karena saya lupa usernamenya. beda dengan blog saya yang terakhir ini, saya membuatnya karena dalam beberapa bulan ini saya merasakan kegairahan yang berlebihan dari nafsu menulis saya, dan parahnya saya ingin mempublikasikannya pada khalayak. namun saat itu saya masih bingung bagaimana caranya....mau disebarin lewat friendster, ah profile friendster-ku sudah parah, ribet juga, ....mau saya ********* takut ********, ah serba bingung. sampai pada suatu hari saat saya sedang hunting foto di google, saya menemukan sebuah foto yang menarik hati, kemudian saya telusuri asal muasal foto tersebut yang ternyata bersumber dari sebuah blog kepunyaan seseorang. pertama-tama blog tersebut hanya saya ambil foto-fotonya sampai saya puas tapi berlanjut dengan saya baca postingnya yang membuat saya bangkit untuk membuat blog. yah terimakasih untuk pemilik blog tersebut.


ternyata perkembangan blog saya tersendat, pada awalnya saya sudah mulai mengisi dengan dua posting tapi kemudian saya delete semua krena setelah saya baca...saya amat tidak puas dengan tulisan saya kemarin. dan setelah melewati beberapa fase kegagalan lagi akhirnya sampai juga saya di tahap pengisian posting kali ini yang insyaAllah akan terus dilanjutkan.


yah, semoga saja keinginan utama saya dalam membuat blog dan mempulikasikan tulisan dan pemikiran saya dapat saya capai seiring dengan uang yang saya pakai untuk main ke warnet.

wassalamualaikum warahmatullah wabarokatuh